Featured Video

Home » » Dalai Lama Tak Setuju Pelaku Perkosaan Digantung

Dalai Lama Tak Setuju Pelaku Perkosaan Digantung

Written By remi on Friday, January 25, 2013 | 12:48 AM

Kaskus - The Largest Indonesian Community - Berita Luar Negeri
Tempat diskusi mengenai berita dari luar negeri.
Dalai Lama Tak Setuju Pelaku Perkosaan Digantung
Jan 25th 2013, 08:13





Salah satu tokoh spiritual dunia yang dihormati, Dalai Lama, menyatakan ketidaksetujuannya dengan vonis mati bagi para pelaku pemerkosaan mahasiswa kedokteran di New Delhi, India. Ia meminta pengampunan dipertimbangkan dalam kasus keji yang berujung kematian korbannya itu.

Dalai Lama membuat pernyataan kontroversial tersebut dalam diskusi panel pekan ini di DSC Jaipur Literature Festival di Jaipur, India.

Lima pria kini mulai diadili dan jika mereka terbukti bersalah, maka kemungkinan mereka akan menghadapi hukuman mati. Publik India dan keluarga korban, yang mengalami koma selama dua pekan setelah pemerkosaan dan meninggal di rumah sakit di Singapura setelah diterbangkan ke negeri itu, menuntut hukuman mati.

"Saya tak suka hukuman mati," katanya, seperti dikutip koran India, Hindu. Ia menambahkan bahwa ada jalan lain yang bisa ditempuh selain hukuman mati. Ia menyatakan, abad ke-21 adalah eranya dialog, bukan konfrontasi atau melakukan kekerasan. Hukuman mati, katanya, bertolak belakang dengan filosofi Budha yang menekankan anti-kekerasan.

Perkosaan di New Delhi ini menyulut kemarahan nasional di India dan menarik debat tentang sistem hukum di negeri itu. Kasus ini juga membuat India dijuluki sebagai "ibu kota pemerkosaan" di dunia.





sumber di sini



waaah...
kok gitu yah,
apa dengan pengampunan trus bisa menimbulkan efek jera buat pelakunya...








You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Blogger Themes